Senin, 04 Maret 2013

Kamu dan kamu



Yah tentang oral sex, tentang making love ternyata memang ada di sekitarku. Sungguh mudah membuat mereka terbuka atas perjalanan seks mereka. Ku memang mengikuti setiap alur ceritanya. Mengikuti setiap alurnya, kata per kata. Ku ladenin. Kemana arah pembicaraan yang kalian inginkan, aku ikuti. Kamu meminta kata per kata yang dapat membuatmu merasa bergairah. Sangat mudah membuat kalian berbicara. Tapi ku tak pernah meminta ataupun bertanya. Kalianlah yang membuka suara sendiri. Ku tak ada meminta apalagi memaksa. Tetapi satu hal yang menarik dan menyadarkanku, memang benar. Jika wanita itu adalah wanita yang kau cintai, kau tidak akan mencelakainya. Bahkan kamu akan memberikan segalanya (harta dan waktu serta perasaanmu) untuk dirinya tetapi di sisi lain, kamu adalah lelaki. Lelaki yang butuh belaian. Kau mencari seseorang yang bisa membuatmu bergairah. Dan itu adalah aku. Awalnya aku menikmati setiap kata per kata. Hanya kata per kata. Tetapi aku merasa bosan. kau meminta lebih. Oh maaf, untuk kali ini aku tidak bisa mengiyakanya. Tidak bisa dan tidak mau. Aku merasa benar-benar bahagia awalnya. Aku kau bilang sexy! Wanita mana yang tidak ingin dibilang sexy walaupun badannya sebesar drum. Kau dan kau dan kau menyanjungku hingga bermalam-malam ku merasa ikut bergairah. Ku melupakan masalahku sementara. Tetapi sekarang tanggal 30 Juni 2012 ku sadar, tepatnya Yang Maha Esa menyadarkan ku, bahwa semua kata-kata cinta dan sayang itu, semuanya bulshit, bookies, jelas-jelas kalian telah punya pasangan masing-masing tetapi masih mau mengumbar kata cinta pada diriku. Terima kasih atas pujian yang telah kalian berikan kepadaku. Terima kasih atas semuanya. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Tetapi kali ini aku menyadari, ku hanya dijadikan sebagai mainan imajinasimu. Maafku harus mengambil sikap. Terima kasih atas kepercayaan yang kalian berikan untukku atas rahasia yang kalian beritahu. Mungkin bagi kalian aku kampungan, gak oke, tak pernah memeluk, mecium bibir waw bahkan selanjutnya aku tidak berani membayangkannya, apalagi untuk melakukannya. Aku tidak marah pada kalian tetapi aku sangat berterimakasih dengan apa yang kalian lakukan. Aku menjadi sadar, sadar. Sangat sadar.
Huaaaa, aku senang, akhirnya aku bisa mengetik-ngetik, huaaa.. capekkkk… kapan-kapan lanjutin lagi yahhhhh….

Q-tut

Hmmm, aku tidak menyalahkan pendapat abang Ifif dan abang Dano. Bagus sekali bisni Q-tut itu. Tetapi aku tak tau harus berkata dan bersikap apa. Kalian berkata demi orang tua demi orang tua. Kalian tidak sukses, masih ada orang tua tempat kalin berkeluh kesah. Masih ada orang yang akan memberi makan kalian. Tetapi aku  masih ragu dengan semua itu. Aku malas untuk bermimpi. Aku takut kecewa. Ku belum sanggup untuk menerima kenyataan jika aku harus kecewa. Aku muak dengan kalian. Menggunakan apa aku tak mengerti. Jangan kau takut-takuti aku. Ku ingin menjadi aku yang seperti ini. Bukannya ku tak ingin menjadi lebih baik. Tetapi solusinya itu berisiko yang tidak sedikit. Ku juga tertarik untuk ikut. Jauh dari yang pernah sodara-sodara bayangkan. Tetapi ku mantap, tidak untuk saat ini. Perjalanan hidupku tidak semudah yang sodara jelaskan. Bukannya ku menganggap itu hanya omong kosong. Tapi lihatlah. Lihatlah diriku sekarang. Ku juga punya rencana dalam hidupku. Ku tak ingin muluk-muluk tetapi juga tidak pesimis. Ku optimis dalam menatap masa depanku. insyaAllah. Amin.
Tetapi terima kasih atas semua informasi yang telah teman-teman sampaikan. Aku bahagia. Aku terharu jika teman memilihku untuk mendapatkan informasi itu.
Q-tut v team. 30 Juni 2012