Rabu, 05 Februari 2014

Lelaki 4 - Teman atau Teman-Temanan? Ntah lah!

Lelaki 4

            Dia bernama Ande Perta (nama disamarkan), bujang tanggung tamatan SMA, sedang mengikuti les di kotaku. Dia adalah sepupu dari teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) ku. Dia 4 tahun lebih muda dibandingkan denganku. Sebenarnya lelaki ini tidak masuk dalam daftar calon masa depanku. Bukan karena dia tidak menarik, tetapi dia “brondong manis”. Andai dia berusia lebih tua atau minimal seumuran denganku, mungkin lain cerita. Perkenalan kami bermula ketika dia meminta nomorku kepada sepupunya itu. Singkat cerita kami berhubungan melalui telefon. Kadang dia yang menelfonku, kadang dia memintaku untuk menelfonnya dan kadang aku yang inisiatif menelfonnya. Aku mengetahui dengan detail urutan anggota keluarganya, mulai dari dia, anak pertama hingga si dedek anak bungsu. Dia menelfon pasti dalam keadaan sedih dan galau. Dia menceritakan setiap detail permasalahan hidupnya, mulai dari dia dimarahi oleh orang tuanya karena dia suka keluyuran hingga tengah malam, pernah kabur dari rumah dan kemudian dijemput orang tuanya untuk pulang, dia putus-nyambung dengan beberapa temen wanitanya dan bercerita mengenai mantan terindahnya yang hingga saat ini sulit untuk dia lupakan. Setiap menelfon, dia selalui menyembutkan nama mantannya itu, Vani (nama disamarkan). Vani, vani dan vani. Ada rasa kesal dan cemburu di dalam hatiku ini. Kesal karena setiap dia menelfon hanya untuk menceritakan masalah cintanya dan cemburu karena dia begitu bersemangat ketika menyebutkan nama itu. Alamak, jangan bilang aku ada hati dengan bocah bujang ini. Tidak! Dan kenapa aku tiba-tiba menceritakannya. Karena setelah hampir 1 tahun kami kenal via telefon, akhirnya tadi bertemu juga, ketemuan di salah satu supermarket atau plasa yang ada di kota ku ini. Ternyata sekarang dia lebih rapi, lebih dewasa dan lebih putih dibandingkan dengan foto di media sosialnya itu. Dan jujur, aku terpana dengan senyumannya, Senyuman yang manis. Tapi aku tidak boleh jatuh cinta kepadanya, karena dia terlalu muda untukku dan dia belum bekerja, tamatan SMA, dan aku yang mentraktirnya. Hmm, tapi aku senang bertemu dan bermain basket bersamanya tadi. Kekosongan waktu ku saat jobseeker ini, menjadi terisi dan berwarna. Dia bocah bujang tanggung black sweet yang mempesona. Dan tanggal 29 Desember 2013 nanti, dia berjanji mentraktirku untuk makan di taplau. Let’s see, apakah terwujud ataukah tidak. ^^


Setelah 29 Desember 2013
            Widiw, ternyata janji tinggal janji, dasar ababil, haha. Hmm, tapi aku tidak marah dengan keputusan yang dibuat olehnya untuk menggagalkan rencana ketemuan kami, alasannya masuk akal sih. Di luar dia berbohong atau jujur, aku terima alasannya bahwa ia tidak boleh keluar untuk bermain, karena sekarang ia menginap di rumah sepupunya, bukan di rumahnya sendiri. Tentu dia harus mengikuti aturan yang dibuat oleh orang yang punya rumah. Kami tetap berkomunikasi, kadang aku mulai merasa jenuh dengan anak bujang ini, karena ulah sepupunya yang seakan “tidak ingin” aku berhubungan lebih jauh dengan sepupunya ini, dan bahkan dia menghinaku dengan yel-yel “Ande naksir sama tante-tante!”. Yap, tante di sana maksudnya adalah aku. WTF! Sekedar diketahui saja, aku sudah bisa menetralisir hati, aku dan Ande cuma temenan, adek-kakak, tidak lebih, tidak kurang. Namun, instingku mengatakan bahwa Ande sepertinya memiliki “rasa” denganku, setiap sms untuk mengucapkan selamat tidur, selalu diakhiri dengan adek chayank kakak. Yah, aku tetap mengartikannya bahwa sayang dalam artian adik kepada kakaknya. That’s it! Gagalnya rencana tanggal 29 itu, Ade mengajakku ketemuan pada tanggal 14/15 Februari 2014 ini. Dan dia yang mentraktir. Let’s see saja, apakah jadi atau tidak. Aku tidak malas dan juga tidak excited. Biasa saja. ^^

            Melenceng sedikit dari si Lelaki 5, Ande ini. Jujur aku merasa cemburu ketika temen KKN ku, abang sepupunya punya pacar baru dan aku bahagia ketika dia putus dengan mantannya yang dulu. Hmm, kenapa aku bisa punya “rasa” dengan manusia aneh ini, punya golongan darah AB (sama denganku), sensitif dan penyuka music K-POP dan J-Pop. Flashback, “rasa” itu muncul ketika doi mengirimkan aku sms gombal dan romantic (aku akui dia lelaki romantis) dulu, dulu sekali , sejak saat itu aku GR dan beranggapan dia suka denganku. Sampai pada saat dia bertemu dengan kakakku (saat menjemputku di tempat KKN-aku sakit). Luluh lantah rasanya hati ini karena dia naksir dengan kakakku, naksir berat. Setiap dia menghubungiku cuma untuk menanyakan kakakku, aku cemburu, bodoh! Jika memang dia tidak ada rasa denganku, mengapa memancing rasaku ini untuk datang dengan mengirimkan sms-sms itu. Walaupun aku mulai biasa saja dengannya, tapi jujur setiap dia bbm atau komen duluan, sebenarnya aku bahagia, tapi endingnya pasti menyebalkan, dia selalu menghinaku. Huft. Dan si Lelaki 5 juga menghinaku dengan sebutan “Gapuak(Gendut)”. Benci sama orang “gapuak” tapi tetap disms dan ditelfon juga. Dasar ababil! Dasar keluarga aneh!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar